Apakah rahasia itu :
Adalah lampu jalanan yang terbakarAdalah kelakar pecahan gelas yang telah usang
Adalah daftar angan di setiap buku harianAdalah samsara harumnya enggan padam
Adalah telepon genggam bergetar di samping kopi
Adalah melankolian berdeting deting pada pianoAdalah busa cappuccino melekat di pucuk hidung pujangga
Adalah telinga pada punggung mencari cinta yang berdegup kencang tak beraturan
Adalah kecup ketika hujan tak kunjung reda
Atau malah rahasia itu
adalah doa’ supaya rindu terampuni,
sehingga puisi cinta di buku inipun dianggap selesai.
Jurnal hujan kemaren.
06 februari 2018, 17:25
“dear wulan”Hujan turun begitu sembrono:
Sore ini, hampir setengah enam
Air itu..! Tumpah begitu saja
Seperti air dari gelas yang tersikut lengan
Mengguyur catatan harianTentang senja yang tak kunjung terbenam
Sore ini, hampir setengah enam
Hujan turun begitu sembrono:
kuyuplah aku, mencari sosok wulandari itu di penghujung angan.
Dongeng itu…!
Senin, 05 februari 2018.
Pada suatu hari,Aku menemukannya di dekat sebuah air mancur
Berdiri seperti markas penyihir berhias kembang gula.
Lalu ia menggodaku:
” mari sini, singgahlah walau sebentar “
Entah karena lelah
atau malah terlalu terpesona,
Atau memang cerdik.
Aku Cuma bisa diam…Melihat butiran anggur dan sepiring potongan kue manis.
Ahhh.!
Alangkah bahagianya…Ketika terdengar suara tungku penyihir mendidih di kesunyian dapur, Sementara gergasi kurcaci dan tentara mainan selalu berkata:
“ nanti …!“
Mataku memejam menelan hari dan bibirku berbisik dengan perlahan bahwa :
Dongengku telah selesai.
Itu karena, cinta belum saatnya berakhir dan nenek sihir belum kata jambi-jambi.
Lagu-lagu malam
Dear wulandari
Menyelam jauh kedalam gelapMalam berbisik kedalam telinga
Jangan terkecoh, sayangDunia tak sepenuhnya tidur
Namun aku makin dalam tenggelam
Kedalam mimpi-mimpi
Bersama kerlap kerlip lampu
Berlesatan di ujung mata
Jangan tertidur, sayang Dunia tak sepenuhnya tulus
Sebuah ninabobo dari negeri asing
Say something
Say something
Anything
Bualan
Di dalam semuanya tetap sama satu warna ( hitam ).
Pada angin…
Yang mampu menyejukkanmu
Pada hujan…
Yang dengan bebasnya membasahimu
Pada selimut…
Yang dengan mudah mendekap dan menghangatkanmu
Tapi, apa mungkin aku harus menjadi :
Menjadi angin…
Namun tak terlihat
Menjadi air hujan…
Yang stiap saat akan kering
Menjadi selimut…
Yang nyata namun, hanya mampu bersama pada saat dibutuhkan.
Tak ku harapkan awan bertabur bintang
Tak ingin ku petik rembulan pebingkai malam
Aku cukup bahagia dengan senyumannya
Meski jarak terlalu jauh, untuk bersua
Tersenyumlah saat ku tak lagi bersamamu
Karena kan selalu kutitipkan rindu untukmu
Dalam tiap detik perjalanan waktu
Mungkin raga tak lagi mampu kau sentuh
Tapi senyum keindahan kan selalu untukmu
Sadar..!Aku bukan pujangga sejati
Tapi kan ukir sebuah mimpi hanya untukmu..Bidadari…
Andai senyum itu
Sanggup menopengi kedukaan
Karena, kau akan lebih derita melihatkan wajahmu sengsara…
Andai ketawa itu mampu mengusir nestapa.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar